Saturday 25 July 2020

Atas Nama Kompetisi

Sebuah ideologi dianut, manusia harus berkompetisi bebas, terbuka. Mereka yang mampu memberikan barang dan jasa secara optimal akan mendapatkan hati di pasar, sementara yang memang gak berkualitas akan kalah.

Ideologi meyakini bahwa kompetisi akan meningkatkan kualitas hidup manusia. Setiap orang akan berlomba-lomba memberikan yang terbaik ke ekosistem.

Konsep harta bagi rata hanya membuat manusia malas. Atau konsep bahwa setiap orang harus dijaga kebutuhan hidup dasarnya hanya membuat persaingan melemah. Kualitas hidup manusia menurun.

Seakan-akan ideologi ini benar. Kalo dijelaskan oleh para ahli akan bikin kita ngangguk-ngangguk, padahal sejatinya kompetisi fair itu tidak ada. Melepas semua anggota masyarakat pada kompetisi alam bebas hanya akan menghasilkan kalangan miskin akut.

Seorang anak muda yang lahir di keluarga yang miskin, dalam kondisi serba kekurangan, asupan protein kurang, perkembangan otak tidak optimal, lingkungan marginal bikin mental jadi inferior,  mereka ini harus bertarung terbuka dengan anak muda dari keluarga "The Have".

Cukup, tidak perlu dijelaskan endingnya. Jangan silau sama film dan biografi satu dua orang anak miskin yang berhasil, itu pencilan, bukan sistem mekanisme yang bisa diterapkan semua anak muda dari keluarga miskin.

Maka semua dari kita perlu membangun kompetisi yang fair.

Oke, semua orang minimal bisa makan terlebih dahulu. Semua generasi produktif bisa dapat pendidikan yang layak terlebih dahulu. Minimal itu. Lalu kemudian silakan bertarung bebas.

Itulah ZAKAT. Menarik paksa 2,5% dari kekayaan lancar yang berjalan efektif 1 tahun, menarik sebagian ternak dan hasil panen bahan pokok, untuk kemudian menjadi stok bantuan agar masyarakat miskin bisa hidup dalam garis kebutuhan dasarnya.

Itulah Islam. Mempersilakan kompetisi pasar terbuka, namun menjaga sendi dasar basis persaingan.

Hari ini saudara kita makan saja susah, gizi kurang, lalu berani-beraninya Anda bicara tentang kompetisi bebas, lalu memvonis mereka yang miskin adalah yang malas dan tidak kompeten?

Mari gunakan fikiran yang disirami iman. Bukan fikiran yang diselimuti setan.

Ustadz Rendy Saputra
Share:

Thursday 7 May 2020

Paul Pogba and the Reason to Become a Conversion to Invite Your Wife to Know Islam

Peek into the inspirational story of Manchester United star Paul Pogba on his journey to become a convert to invite his wife to get to know Islam.

Paul Pogba himself is indeed known as a quite devout adherent of Islam, as evidenced in several posts on his social media, the French midfielder often displays the religious side of the player.

One of them was when he posted an upload while undergoing Umrah, right after bringing Manchester United won the Europa League title in 2017.

Known as a devout Muslim, it turns out Paul Pogba has a story that is quite unique and inspiring in his journey to find Islam. So what is the story like?
Share:

Friday 10 February 2017

Secangkir Ilmu Paham

Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah "paham".Ini wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya.

Tingkat ke dua terbawah adalah "kurang paham". Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham ..., dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul2 pemahaman yang benar ...!

Naik setingkat lagi adalah mereka yang "salah paham". Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamannya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu.

Nah, tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah "gagal paham". Gagal paham ini biasanya lebih karena kesombongan. Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain.
Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dll ), atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja ..., bukan ilmu yg disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan ...?
Tertutup hatinya. 
Tertutup akal pikirannya.
Tertutup pendengarannya.
Tertutup logikanya.
Ia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri.
Parahnya lagi ...,
Dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu, menjadi bahan tertawaan orang yang paham. Dia tetap dengan dirinya, dan dia bangga dengan ke-gagal paham-annya ...
"Kok paham ada di tingkat terbawah dan gagal paham di tingkat yang paling tinggi ? Apa tidak terbalik ?"Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk, merendah. Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu, bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dia merasa se-akan2 dia tidak tahu apa-apa ...Dia terus mau menerima ilmu, darimana-pun ilmu itu datangnya. Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat ..., apa yang disampaikan ...!
Dia paham ...,

ilmu itu seperti air, dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya. Sedangkan gagal paham itu ilmu tingkat tinggi, dia seperti balon gas yang berada di atas awan.Dia terbang tinggi dengan kesombongannya ..., Memandang rendah ke-ilmuan lain yang tak sepaham dengannya,Dan merasa akulah kebenaran ... !!!
Masalahnya ..., dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin, tanpa mampu menolak. Sering berubah arah, tanpa kejelasan yang pasti.Akhirnya dia terbawa ke-mana2 sampai terlupa jalan pulang ..., dia tersesat dengan pemahamannya dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya ...
Dia akan mengakui ke-gagal paham-annya ..., dengan penyesalan yang amat sangat dalam.
"Jadi yang perlu diingat ...,
akal akan berfungsi dengan benar, ketika hatimu merendah ...
Ketika hatimu meninggi.., maka ilmu juga-lah yang akan membutakan si pemilik akal ..."
Ternyata di situlah kuncinya.
"Lidah orang bijaksana, berada didalam hatinya, dan tidak pernah melukai hati siapapun yang mendengarnya ..., tetapi hati orang dungu, berada di belakang lidahnya, selalu hanya ingin perkataannya saja yang paling benar dan harus didengar ... !!!"
"Ilmu itu open ending"
Makin digali makin terasa dangkal.
Jadi kalau ada orang yang merasa sudah tahu segalanya, berarti dia tidak tahu apa2 ... !!!"
Semoga bermanfaat. Aamiin
Share:

Saturday 7 May 2016

Antara Teori Relativitas dan Mukjizat Isra’ Mi’raj

Dalam teori relativitasnya yang lebih dikenal dengan E=mc2 (1905 M), Albert Einstein meng-include-kan antara ruang dan waktu. Ketika bicara soal waktu, tidak mungkin terlepas dari ruang, atau sebaliknya. Jika segala sesuatu bergerak, maka harus ada waktu yang menyertainya. Semakin cepat sesuatu bergerak, maka waktu di sekelilingnya akan menyusut jika dibanding dengan waktu sebuah benda yang geraknya lebih lambat.

Berdasarkan teori Einstein ini, jika dikhayalkan seorang astronot bergerak mendekati kecepatan cahaya selama sehari maka itu sama saja dengan 50.000 tahun tahun waktu bumi. Jika kembali ke bumi, maka tim astronot tersebut akan menemukan generasi baru sama sekali.

Kesimpulannya, semakin cepat bergerak maka waktu akan menciut. Itulah kurang lebih keyakinan kaum materealisme dimana kecepatan dan kemampuan waktu terkait erat.

Jika ada makhluk lain bukan dari bangsa manusia yang lebih kuat dari manusia, seperti jin atau malaikat, maka ia bergerak dengan hukum yang berbeda. Ia akan mampu menempuh jarak dan melintasi segala penghalang yang di luar bayangan manusia. Berdasarkan teori relatifitas, jika ada benda kecil yang bergerak melebihi kecepatan cahaya, maka jarak akan pendek dan menghapus waktu di depannya. Hingga kini, kecepatan cahaya di ruang kosong masih yang tercepat. Namun dunia ilmiah tidak mengingkari adanya kecepatan lain yang lebih cepat di ruang kosong. Meski belum ditemukan.

Apa lantas kaitan teori relativitas Einstein dengan mukjizat RasulullahShalallahu Alaihi wa Sallam, “Isra’ dan Mi’raj”?. Tulisan ini bukan menambah pembuktian kebenaran mukjizat hissi (indrawi) ini. Namun untuk melakukan pendekatan pemahaman masalah ini terhadap mereka yang mengingkari kejadian ini, baik dari kalangan umat Islam yang ragu atau orang kafir. Separuh bagian dari mukjizat ini, Allah sengaja menantang manusia yang ingkar. Separuhnya adalah perkara ghaib yang harus diyakini kebenarannya secara mutlak.

Mukjizat ini tidak mungkin terjadi terhadap manusia biasa dengan standar ilmiah apapun dengan segala teori dan asumsinya. Sebab jika terjadi, ia bukan mukjizat lagi dan manusia bisa menciptakan alat (mesin waktu misalnya) untuk melintasi waktu. Mukjizat indrawi tidak bisa diandalkan untuk meyakinkan risalah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, sebab mukjizat itu sudah berlalu. Mukjizat yang kekal adalah Al Quran.

Isra’ dan Mi’raj merupakan mukjizat yang mengandung unsur kecepatan yang di luar biasa yang mengantarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dalam dua perjalanan. Pertama, rihlah (perjalanan) antar jarak di bumi dari Masjidil Haram di Mekah ke masjidil Al Aqsha di Palestina yang disebut isra’. Kemudian dilanjutkan “perjalanan langit” dari bumi menembus alam raya ke lapisan langit yang tidak pernah di ketahui oleh manusia kecuali melalui informasi dari Al Quran.

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al Isra’: 1)

“Maha Suci Allah” kalimat ini menegaskan tentang mukjizat Isra’ dan Mi‘raj. Namun apakah perjalanan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, ini utuh dalam arti ruh dan jasadnya atau hanya ruhnya saja? Ada sebagian orang mengatakan bahwa perjalanan Isra’, terutama tentu Mi’raj terjadi terhadap Rasulullah, ketika dalam keadaan tidur atau mimpi. Artinya, hanya ruh saja tanpa jasad. Namun, secara tidak langsung, pendapat ini tidak mengukuhkan Isra’ Mi’raj sebagai mukjizat.

Pendapat yang benar, wallahu a’lam bishawab, perjalanan itu terjadi pada ruh dan jasad secara utuh. Ayat di atas tegas menyatakan “biabdihi”, (dengan hamba-Nya), secara lahir maknanya utuh ruh dan jasad. Di awal ayat, ditegaskan “subhanalladzi” , Maha Suci (Allah) Yang artinya Allah Maha Suci dari tandingan, persamaan, pertolongan, suci dari kelemahan Yang mampu menciptakan kejadian maha agung. Dari awal ayat Allah sudah “meminta” kepada pembaca untuk menerima informasi kejadian agung.

Melihat kondisi kaum muslimin saat itu dan dakwahnya, mukjizat Rasulullah, ini bertujuan ingin membersihkan hati orang yang beriman kepada beliau, secara utuh dan total.

Kelompok materealis selalu mengukur segala sesuatu dengan dimensi, ruang, waktu dan materi. Walhasil mereka mengingkari fenomena Isra’ Mi’raj secara mutlak.

Dalam hadits disebutkan bahwa perjalanan pergi dan pulang dari Mekah ke Al Quds, Rasulullah saw naik “buraq“. Sebagian mengatakan buraq berwarna putih yang berkilau. Kemungkinan ini adalah kendaraan dengan kecepatan cahaya wallahu a’lam. Karena ini sebuah mukjizat, maka jasad Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dijaga dari pengaruh kecepatan cahaya.

Alam raya maha luas yang disaksikan oleh manusia dengan alat-alat yang ada hanya langit dunia dan bagian kecil dari langit-langit Allah yang tujuh. Semua itu tidak ada bandingnya sama sekali dengan Allah Yang Maha Esa, Raja dan Pemilik dan Pengatur alam raya ini.

Meski teori perubahan materi menjadi energi dan kembali lagi ke materi hanya sebatas terori dan tidak bisa diterapkan, tapi bisakah ini didekatkan dengan fenomena Isra’ dan Mi’raj? Mungkinkah jasad Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, berubah menjadi energi yang lebih tinggi dari cahaya sehingga bisa menembus alam raya dalam waktu singkat? Perjalanan Rasulullah dalam isra dan mikraj hanya semalam. Perjalanan itu dimulai setelah Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam shalat isya’ bersama sahabat dan kembali shalat shubuh bersama-sama mereka.

Fenomena mukjizat itu ditegaskan oleh Allah dalam Al Quran

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang Dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah Dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (An Najm: 1-18)

Dalam sejarah, perjalanan ke langit atau perpindahan benda sangat cepat bukan hanya di jaman Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Sebut misalnya, Nabi Sulaiman memindahkan istana Balqis dalam sekejap dari Yaman ke Syam, Nabi Idris yang diangkat ke langit, Nabi Ilyas, Nabi Isa bin Maryam. Dalam sebuah riwayat hadits shahih, Nabi Isa yang diangkat Allah ke langit akan kembali ke bumi di akhir jaman. Apakah dalam fenomena ini berlaku teori relativitas Albert Eistein?

Wallahu a’lam bish shawab.

###
Sumber: hasanalbanna.com
Share:

Friday 6 May 2016

Memohon Pembenahan ILLAHI Dalam Segala Urusan

بسم الله الرّحمن الرّحيم


Hal yang paling bermanfaat dalam meniti peristiwa di masa mendatang adalah mengamalkan do’a yang diamalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Ya Allah, Perbaikilah kehidupan religiku, yang ia adalah benteng bagi segala urusanku. Perbaikai urusan duniawiku yang padanya kehidupanku. Perbaikilah akhiratku, yang kepadanya tempatku kembali. Jadikanlah hidup ini sebagai lahan uapayaku menambah segala kebajikan, dan jadikanlah mati sebagai titik henti bagiku dari segala keburukan” [Muslim, Shahih Muslim, Kitab Adz-Dzikr Wad-Du’a wat-Taubah wal Istighfar, bab At-Ta’awwudz min Syarri Ma’ Amila wa Min Syarri Malam Ya’mal]

Juga do’a beliau.

“Artinya : Ya Allah, hanya RahmatMu jualah yang kuharap. Karenanya titipkan diriku pada diriku walaupun sekejap mata, perbaikilah keadaanku seluruhnya Tiada Tuhan Yang Haq disembah kecuali Engkau” [Hadits Riwayat Abu Dawud dengan sanad Shahih].

Jika bibir seorang hamba mengucapkan do’a ini –yang mengandung kebaikan masa depan bagi nilai religinya maupun urusan duniawinya- dengan hati yang memusat dan niat yang benar, seiring berupaya merealisasikan hal itu dengan berbuat, niscaya Allah akan mewujudkan apa yang ia panjatkan dalam do’anya dan yang ia harapkan serta yang ia upayakan itu menjadi realita, dan kegelisahannya pun akan berubah menjadi kegembiraan dan kesukacitaan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
=================================
🌎Sumber : [Disalin dari kitab Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa'idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penulis Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma'ruf, Diterbitkan Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]

Share:

Thursday 5 May 2016

INGIN ADOPSI ANAK-ANAK SURIAH, TAPI BAGAIMANA CARANYA?

Bismillah, salah satu pertanyaan yang diajukan pada tim Misi Medis adalah keinginan untuk dibawakan pulang oleh-oleh berupa anak Suriah yang cantik, ganteng, mancung dan kiyut (cute) khas Arab-Eropa. Walaupun demikian, ada satu rahasia besar dari anak-anak Suriah di pengungsian! Yaitu jarang mandi, hehe..

Inginnya kami juga membawa anak-anak Suriah itu untuk diterbangkan ke tanah air, lalu kami adopsi sendiri atau dicarikan orang-orang tua asuh yang terbaik.

Tapi kendala untuk membawa satu saja bocah Suriah ke Indonesia itu betul-betul sulit. Berikut beberapa kendalanya:

1. Izin dari wali sah si anak
Betul, memang banyak anak Suriah yang kehilangan orang tuanya, tapi meski jadi yatim kan masih tetap punya ibu. Begitu pula yang kehilangan ibunya tapi masih punya ayah. Bahkan yang sudah yatim-piatu pun memiliki kakek atau paman yang merawat. nah, bagaimana bisa membawa si anak ke luar negeri jikalau tidak diizinkan oleh pihak keluarga besarnya? Susah kan..

Kemudian, misalnya keluarganya berhasil diyakinkan dan setuju memberi izin, maka yang jadi masalah selanjutnya adalah soal administrasi dan dokumen imigrasi.

2. Administrasi dan imigrasi
Dari arah mana kita bisa membawa keluar seorang anak Suriah? Tentu saja lewat Turki. Loh, bukannya banyak pengungsi Suriah bisa menuju ke Eropa keluar dari Turki dengan bebas dan mudah? Memang benar, tapi itu tujuan ke Eropa untuk mencari suaka, bisa lewat darat atau laut. Sementara membawa anak Suriah calon adopsi ke Indonesia tentu harus terbang dengan disiapkan segala dokumen resmi agar nanti bisa dilepas keluar oleh pemeriksaan imigrasi bandara Indonesia.

Seandainya anak Suriah datang ke Indonesia dengan surat pengantar badan pengungsi PBB (UNHCR) sebagai Humanitarian Refugess, maka Indonesia pun hanya bersedia menjadi tempat transit sementara dan bukan tujuan suaka, sebab Indonesia tidak meratifikasi konvensi PBB tentang pengungsi. Status Humanitarian Refugess pada umumnya pun diperlakukan sebagai "alien" atau orang-orang yang mendapat proteksi/pembatasan di negara tuan rumah. Sehingga mustahil kegiatan hukum seperti adopsi resmi bisa dilakukan.

Tapi jika mereka tadi berhasil didatangkan sebagai imigran resmi (paspor, visa, data kependudukan berhasil dilengkapi walau aspal), apakah bisa dilakukan proses adopsi? Bisa saja, tapi...

3. Aturan hukum Indonesia mengenai adopsi anak WNA
Untuk melakukan adopsi anak orang asing kepada orang tua WNI, PP no 54 Tahun 2007 memberi syarat:

a.  Memperoleh persetujuan tertulis dari pemerintah Republik Indonesia; dan

b.  Memperoleh persetujuan tertulis dari PEMERINTAH negara asal anak.

Poin a bermaksud bahwa keabsahan adopsi harus disetujui melalui proses pengadilan di Indonesia setelah semua persyaratan legal-formal terpenuhi, baik dari si anak maupun calon orang tua angkatnya.

Nah kan, poin b memberi syarat harus dapat izin dari pemerintah asal si anak. Dalam hal ini jika anak tersebut dari Suriah, maka pemerintah Indonesia akan merujuk kepada kedutaan Suriah di sini. Tentu saja di bawah pemerintahan Basyar al-Assad sebagai rezim yang masih diakui. Harus diperiksa, benarkah telah diizinkan di sana untuk mengadopsi anak Suriah ke Indonesia.

Tanpa itu semua, bisa dianggap ilegal, dan si anak akan dikembalikan ke negara asalnya melalui kedutaan Suriah (diserahkan kepada Assad).

Bagaimana? Sangat sulit bukan untuk mengadopsi bocah-bocah ini:

Karena sulit sekali (bahkan mustahil) mengadopsi dan merawat langsung putra-putri bumi Syam, maka kami memberikan alternatifnya. Kita bisa jadi orang tua "ideologis" untuk mereka, akan kita siapkan generasi baru penerus Ahlusunnah di bumi Syam melalui program pendidikan.

"Semoga suatu saat, akan ada dari mereka atau keturunannya nanti akan menjadi bagian dari huru-hara akhir zaman, akan ada yang berada di barisan Al-Mahdi ataupun Isa bin Maryam!"
Share:

Wednesday 27 April 2016

Wajibkah Berpegang pada Salah Satu Madzhab?

Dr Wahbah AzZuhaili dalam bukunya Ar Rukhas Asy Syar’iyyah meletakkan satu judul: “Adakah beriltizam dengan mazhab tertentu perkara yang dituntut syarak?” Beliau menyebut tiga pendapat. Namun beliau telah mentarjihkan (memilih) pendapat yang menyatakan tidak wajib.

Kata beliau, “Kata jumhur ulama: Tidak wajib bertaklid kepada imam tertentu dalam semua masalah atau kejadian yang terjadi. Bahkan boleh untuk seseorang bertaklid kepada mujtahid manapun yang dia mau. Jika dia beriltizam (berkomitmen, berpegang teguh) dengan mazhab tertentu, seperti mazhab Abu Hanifah, atau Asy Syafi’i atau selainnya, maka tidak wajib dia memegangnya terus-menerus. Bahkan boleh untuk dia berpindah-pindah mazhab. Ini karena tiada yang wajib melainkan apa yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya tidak pula mewajibkan seseorang bermazhab dengan mazhab imam tertentu. Hanya yang Allah wajibkan ialah mengikut ulama, tanpa dibatasi hanya tokoh tertentu, dan bukan yang lain.

Firman Allah: “Maka bertanyalah kamu kepada Ahl al-Zikr jika kamu tidak mengetahui. “

Ini kerana mereka yang bertanya fatwa pada zaman sahabat dan tabi’in tidak terikat dengan mazhab tertentu. Bahkan mereka bertanya kepada siapa saja yang mampu tanpa terikat dengan hanya seorang saja. Maka ini adalah ijmak (kesepakatan) dari mereka baawa tidak wajib mengikut hanya seseorang imam, atau mengikut mazhab tertentu dalam semua masalah.

Katanya lagi: “Kemudian, pendapat yang mewajibkan beriltizam dengan mazhab tertentu membawa kepada kesusahan dan kesempitan, sedangkan mazhab adalah nikmat, kelebihan dan rahmat. Inilah pendapat yang paling kukuh di sisi ulama Ushul al Fiqh…Maka jelas dari pendapat ini, bahwa yang paling shahih dan rajih di sisi ulama Usul al-Fiqh adalah tidak wajib beriltizam dengan mazhab tertentu. Boleh menyelisihi imam mazhab yang dipegang dan mengambil pendapat imam yang lain. Ini karena beriltizam dengan mazhab bukan suatu kewajipan –seperti yang dijelaskan-. Berdasarkan ini, maka pada asasnya tidak menjadi halangan sama sekali pada zaman ini untuk memilih hukum-hakam yang telah ditetapkan oleh mazhab-mazhab yang berbeda tanpa terikat dengan keseluruhan mazhab atau pendetailannya”. (silakan merujuk: Al-Zuhaili, Dr Wahbah, al-Rukhas al-Syar’iyyah, halaman 17-19, Beirut: Dar al-Khair).

Sumber: hasanalbanna.com
Share: